Kalau jalan-jalan ke Bandung PP alias ga nginep, kita sering mampir ke mal Paris van Java (disingkat PVJ). Soalnya itu mal paling dekat ke pintu tol Pasteur jadi ga terlalu lama kena macetnya dan banyak makanan pula di PVJ. Gara-gara sering ke PVJ kita jadi tahu ada hotel De Java di seberangnya.
Saat long weekend awal mei 2015, kita decided untuk nginep dan jalan-jalan saja di Bandung. Awalnya reservasi di De Java untuk tanggal 1-2 mei karena tanggal 30 april – 1 mei kita kemping di Dusun Bambu. Keputusan nginep di Bandungnya mendadak jadi kamar yang tersisa tinggal executive room. Kita ambil 2 kamar, 1 untuk saya sekeluarga dan 1 lagi untuk orang tua saya. Ternyata pas hari H-nya kita dapat info bahwa yang kemping tanggal 30 april itu cuma kita ber-7 saja akhirnya suami memutuskan untuk merubah tanggal inap. Kita nginep di De Java tanggal 30 april dan kemping tanggal 1 mei. Konsekuensinya yang tersisa hanya kamar suite.
Saya dan orang tua membawa mobil masing-masing. Saya sampai duluan di Bandung sekitar pukul 17.30. Seperti biasa lampu merah tol Pasteur sampai mal PVJ muaceeet sampai si bungsu merengek minta lepas car seat. Saya pun mengajak dia nyanyi, ngobrol, dan mainan pesawat dan alhamdulillaah si bungsu tetap duduk di car seat hingga akhirnya kita tiba di hotel De Java.
Setelah suami mengurus pendaftaran di check-in desk, kita mendapat kamar di lantai 5. Kamar saya dan orang tua berdekatan sesuai janji resepsionis saat saya memesan via telpon. Kami mendapat kamar 508 dan 507. Kamar 508 yang terdekat dari pintu lift tapi setelah dicoba pintunya tidak mau membuka. Pindahlah kita ke 507 yang cuma berjarak beberapa langkah dari 508. Setelah meletakkan tas-tas saya menelpon resepsionis untuk memberitahu bahwa cardkey kamar 508 tidak berfungsi dan resepsionis pun mengatakan bahwa ia akan mengirim petugas untuk mengganti kartu. Sambil menunggu petugas datang, saya foto-foto isi kamar ๐
Kamar suite di De Java hotel cukup luas dan unik dengan pembagian ruangan yang tepat. Tidak ada meja makan di kamar ini meski disediakan peralatan makan dan wastafel, hanya ada sofa set plus TV di living room dan meja kerja. Diantara living room dan meja kerja ada ruang kosong beralaskan karpet. Tebakan saya ruang kosong itu digunakan untuk penempatan extra bed. Biasanya kita membutuhkan extra bed untuk tidur si Sulung sementara adik-adiknya tidur seranjang dengan saya dan suami. Tapi karena orang tua saya ikut dan mereka ingin tidur bareng salah satu cucunya, cost untuk extra bed pun terselamatkan hehehe ๐
Kamar mandi berada diantara lemari pakaian dan ruang tidur. Antara kamar mandi dan ruang tidur dipisahkan oleh kaca yang bisa ditutup dengan roller blind. Desain kamar mandi cukup mewah dengan kombinasi marmer dan keramik bermotif parket plus penempatan cahaya yang yang tidak langsung. Bathtub berbentuk persegi panjang menjadi centre point kamar mandi.
Jika bathtub menjadi centre point di kamar mandi, maka centre point kamar adalah ruang tidur. Desain ruang tidurnya sangat unik. Ruang tidur dibedakan dengan level lantai (naik 2 anak tangga). Posisi dan bentuk tempat tidurnya mengingatkan saya dengan tempat tidur di Jepang yang setinggi selimut dan dihamparkan di lantai padahal matras/kasurnya yang tingginya kurang lebih setinggi kasur saya di rumah dimasukkan kedalam ceruk yang telah disiapkan. Sebagai pemisah antara tempat tidur dengan lantai, disekeliling tempat tidur ditempatkan bantalan sofa yang ditempel permanen ke lantai. Hal ini membuat tempat tidur tampak lebih luas lagi. Di ruang tidur ini ada TV juga. Puas deh suami dan anak-anak bisa nonton di TV yang berbeda sesuai channel TV kesukaan masing-masing.
Akhirnya petugas yang dikirim resepsionis untuk mengganti cardkey kamar 508 pun tiba. Begitu saya masuk terkejutlah saya kok kamar suite orang tua saya sangat jauh berbeda dengan kamar saya.
Di kamar 508 tidak ada ruang duduk dan bagian dalam kamar mandinya pun hanya menggunakan shower.
Saat saya tanyakan ke petugas yang membawa kunci mengapa kamar suite saya dan orang tua saya berbeda, jawaban dia yang paling luas memang hanya kamar 507. Tak berapa lama kemudian kedua orang tua saya pun tiba di hotel dan langsung menuju kamar 508. Alhamdulillaah meski tak ada ruang duduk seperti kamar saya, mereka tetap senang mendapatkan kamar yang cukup besar dan seperti saya, mereka juga menyukai desain tempat tidur di kamar mereka yang juga ala tempat tidur Jepang seperti di kamar saya.
Kami makan malam spaghetti dan talas kukus buatan mama di kamar saya karena kamar saya yang cukup besar, ada sofa untuk duduk, dan tersedia peralatan makan. Selesai makan dan bercengkerama dengan cucu-cucunya, kedua orang tua saya pun kembali ke kamar untuk beristirahat, ditemani si sulung tentu saja.
Setelah kedua orang tua saya pergi, saya pun membereskan tempat, mencuci peralatan makan dan dot, dan bercengkerama dengan suami dan anak-anak. Tapi selama itu saya masih memikirkan masalah kamar orang tua saya yang berbeda jauh fasilitasnya. Rasanya saya tidak rela orang tua saya menempati kamar yang lebih kecil dan kurang fasilitasnya padahal kami memesan 2 kamar suite.
Akhirnya saya telpon resepsionis menanyakan mengapa kedua kamar yang saya pesan berbeda. Resepsionis langsung meminta maaf mengatakan bahwa ada kesalahan sistem yang meletakkan orang tua saya di kamar executive (tipe kamar dibawah suite) dan mereka pun berjanji untuk mencharge harga kamar sesuai tipe executive. Berhubung sudah malam saya tidak banyak protes karena orang tua saya juga pasti sudah capek dan kitapun hanya menginap semalam. Saya berencana memberitahukan hal ini pada orang tua saat sarapan besok pagi.
Besoknya saya menelpon orang tua untuk janjian sarapan di restoran. Setelah sepakat bertemu di restoran, ayah saya bercerita bahwa resepsionis menelpon ke kamarnya untuk meminta maaf atas kesalahan sistem yang terjadi sehingga orang tua saya ditempatkan di Executive. Ya, memang sudah seharusnya pihak manajemen langsung meminta maaf dan menjelaskan sendiri ke orang tua saya.
Restoran berada di lantai yang sama dengan Lobby. Sayang tempatnya tidak begitu luas sehingga tampak sesak.
Menu sarapan di De Java cukup beragam. Ada menu Indonesia, Western, dan Jepang (sushi).
Diseberang restoran ada butik kecil yang menjual tas dan sepatu bermerek seperti Balenciaga dan Tory Burch. Saya tidak masuk dan mengecek keasliannya karena takut tergoda ๐ tapi dalam websitenya, De Java menjamin ke-authentic-annya bahkan memberikan jaminan uang kembali jika produknya yang terjual tidak asli.
Fasilitas lainnya yang tersedia ada kolam renang dan ruang fitness yang tersedia di lantai 6. Sayang kami tidak punya cukup waktu untuk mencoba kolam renang dan alat fitnesnya. Pukul 12 siang tepat kami checked-out untuk menuju destinasi berikutnya, Eagle Camp, di Dusun Bambu, Lembang.
Untuk reservasi dan informasi lebih lengkap bisa menghubungi hotel Dejava di :